Integrasi Teknologi dalam K12 Education di Taiwan dan Amerika Serikat

Taiwan telah mendapatkan reputasi sebagai salah satu negara terkemuka dengan industri teknologi maju. Gadget dan perangkat berteknologi tinggi tersedia di seluruh negeri. Teknologi telah mempesona penduduk. Tetapi apakah teknologi ini terintegrasi dalam ruang kelas? Apakah gadget berteknologi tinggi dan teknologi berbasis komputer (Teknologi Berbasis Komputer) dimanfaatkan secara efektif untuk penggunaan ruang kelas?

Dalam sebuah penelitian yang dibuat oleh Yi-Wen Hung dan Ying-Shao Hs dari National Taiwan University pada tahun 2007 berjudul "Memeriksa Penggunaan CBT Guru di Kelas: Studi di Sekolah Menengah di Taiwan", diketahui bahwa sebagian besar guru Taiwan menggunakan banyak komputer tetapi terutama untuk mengakses internet, menulis dokumen, mengirim email tetapi tidak untuk mengajarkan tugas terkait kecuali untuk penilaian.

Demikian pula, di Amerika Serikat, sebuah studi yang dibuat oleh Pusat Nasional untuk Statistik Pendidikan pada tahun 2009 mengungkapkan bahwa sementara 97% dari para guru yang disurvei memiliki akses ke komputer di kelas, kebanyakan dari mereka (66%) menggunakannya untuk penelitian.

Ada guru yang bahkan percaya bahwa siswa menghabiskan lebih banyak waktu dengan gadget berteknologi tinggi seperti iPod, wii dan ps3 yang mereka yakini mengalihkan perhatian mereka dari buku-buku tradisional.

Tetapi teknologi berbasis komputer berarti lebih dari membuat pekerjaan penelitian bagi para guru lebih mudah serta menjadi lebih dari sekedar alat menyenangkan dan rekreasi untuk siswa.

Pendidik cepat datang ke realisasi bahwa CBT dapat digunakan untuk merebut kembali perhatian siswa dan menghidupkan minat belajar mereka untuk apa yang jika tidak mereka abaikan sebagai topik yang membosankan.

Taiwan telah menuangkan sumber daya untuk mengembangkan teknologi ruang kelas yang inovatif. Di Sekolah Dasar Nanhu di Taipei, ia meluncurkan sebuah model yang mereka sebut eFuture Classroom yang menggabungkan desain futuristik yang dilengkapi dengan komputer dan peralatan proyeksi. Di SMP Ren-ai, guru menggunakan eBoards interaktif portabel daripada papan putih tradisional. EBoard adalah layar interaktif besar yang terhubung ke komputer dan proyektor. Desktop komputer diproyeksikan ke permukaan layar sentuh eBoard di mana pengguna dapat menavigasi komputer menggunakan pena, penunjuk atau hanya dengan menggunakan tangan mereka. Cara mengajar alternatif ini menarik dan mendorong lebih banyak siswa untuk berpartisipasi dalam diskusi dan kegiatan kelas.

Teknologi dan pengajaran benar-benar saling melengkapi. Teknologi dapat memiliki dampak besar pada peningkatan pengajaran. Pendidik harus dapat memahami dan mengintegrasikan teknologi yang muncul dan belajar untuk mengintegrasikannya ke dalam penggunaan kelas. Sebaliknya, penggunaan teknologi yang populer dalam pengajaran di kelas dapat berdampak pada bagaimana teknologi terus terbentuk.

Sebagian besar siswa K12 kami saat ini telah benar-benar tumbuh sebagai bagian dari revolusi digital dan dapat dianggap 'tech savvy'. Penggunaan dan integrasi teknologi ke dalam pengajaran kelas akan memiliki efek yang mendalam dan sukses. Ponsel, pesan SMS, teknologi cloud, dan bahkan blogging dan situs jejaring sosial benar-benar dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran di kelas. Game digital dan simulasi dapat dieksplorasi untuk kemungkinan cara mereka dapat digunakan untuk memperkuat pembelajaran.

Kemungkinan menggunakan teknologi yang muncul untuk mengajar di kelas tidak dibatasi hanya oleh seberapa jauh kreativitas dan imajinasi seorang guru bisa pergi. Namun, karena kemudahan informasi yang dapat menggunakan teknologi tersebut, masalah keamanan dan masalah perlindungan anak tidak boleh dianggap biasa.

No Comments

Post a Comment